
Selain Bunaken, rupanya Manado memiliki harta karun lain. Memang tidak seindah alam lautnya, tapi hanya dapat ditemui di Manado. Itu agenda kami di hari kedua.
Bitung:
Kota kecil ini merupakan kota industri. Tidak sehingar-bingar Manado, tapi tetap maju dengan pabrik-pabrik dan pelabuhan besarnya.
Sebuah margasatwa kecil didirikan di Bitung, sekitar satu jam perjalanan dari Manado. Mirip seperti kebun binatang, tempat ini merawat banyak dan beragam hewan.
"Kita cuma punya 53 hewan, sementara untuk jadi kebun binatang mini paling tidak ada 100 hewan," jelas Bapak Penjaga.
Dari puluhan hewan itu, Monyet Tarsius, hewan kebanggaan Sulawesi, menjadi primadona. Bentuk hewan ini lucu sekali, dan benar-benar hewan 'campuran'.
Ukurannya kecil, hanya segenggaman tangan. Wajahnya seperti burung hantu, kupingnya seperti kelelawar, ekornya seperti tikus, jari-jarinya mirip tokek, dan ia bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat.
"Tapi belum bisa kami kembangbiakkan, karena hewan ini nocturnal. Seharusnya siang tidur, tapi karena banyak pengunjung, jd tidak bisa tidur," tambahnya. "Lagipula, tarsius hewan monogami. Kalau sampai yang satu mati, yang pasangannya bisa ikut mati."
Wow!
Waruga:
"Kita ke kuburan batu di Sawangan," ujar Pak Hari, sopir kami di Manado.
Terakhir kali aku mendengar tentang kuburan batu ini sewaktu aku masih duduk di bangku SMA. Tapi aku sama sekali tidak ingat apa isinya. Jadi, agenda mengunjungi Waruga membuatku bersemangat.
Terletak di Sawangan, Air Madidi, Minahasa Utara, sebanyak 144 waruga ditata dalam pemakaman batu yang dilengkapi dengan museum mini. Waruga-waruga ini dikumpulkan dari rumah-rumah penduduk di Minahasa pada tahun 1817. Kuburan yang berbentuk rumah kecil ini dibuat dari batu kali. Tingginya mencapai satu meter.
Setiap kuburan digunakan tidak hanya oleh satu orang, tapi satu keluarga. Orang yang telah meninggal, dimasukkan ke dalam batu dalam posisi meringkuk. Di bawahnya diberi alas piring, untuk menampung abu ketika tulang-tulangnya hancur. Batu ini ditutup dengan batu besar berbentuk atap rumah. Ketika ada yang meninggal lagi dan masih satu keluarga, mayatnya dimasukkan ke dalam batu yang sama.
Creepy...
Di batu yang menjadi penutup, terdapat pahatan-pahatan yang memberi petunjuk tentang mayat yang ada di dalamnya. Mulai dari jumlah yang dikubur, hingga pekerjaan yang mereka lakukan sewaktu masih hidup. Tak hanya orang Minahasa, di sini ada pula kuburan-kuburan batu milik orang Portugis, Spanyol, dan Jepang.
Pada tahun 1800-an, praktek penguburan dengan batu ini dihentikan oleh Portugis. Penyebabnya, muncul bau dan wabah korea dari sela-sela batu.
Merciful Building:
Tempat ini menyediakan berbagai oleh-oleh makanan khas Manado, dan Gorontalo - karena aku melihat beberapa makanan khas sana dijual di tempat itu. Selain menjual, di tempat ini juga beberapa makanan khas tadi dibuat. Bahkan bisa dilihat langsung.
Hebatnya lagi, Merciful Building buka 24 jam dan menyediakan layanan antar ke hotel setelah barang belanjaan mereka bungkus dengan rapi.
Sunday, July 12, 2009
Manado Day Two: Dari Tarsius Ke Waruga
diposting oleh
bulb-mode
pukul
10:26 PM
0
komentar
Label: Keliling-liling
Manado Day One: Demi WOC dan Bunaken

Setelah sempat transit dan menginap semalam di Bandara Cengkareng, dan lima jam perjalanan ke Manado, kami sampai di Bandara Sam Ratulangi. Cuaca cerah dan rombongan penjemput menyambut kedatangan kami.
Liburan... kami telah sampai!
Keluar dari bandara, aku mulai mengamati Manado. Jalanan yang tampak masih baru, dan besar, terbentang dari bandara hingga kota Manado. Dua jalur dengan aspal yang masih sangat mulus.
"Ini baru dibuat. Dalam rangka menyambut WOC," ujar sopir mobil jemputan kami.
Oh. Pantas. Taman yang menjadi pemisah jalur masih tampak belum selesai. Tanahnya kering dan belum ada tanaman yang ditanam. Dan setelah perjalanan selama sekitar 30 menit, kami pun memasuki kota.
Manado ternyata bukanlah seperti bayanganku. Kota ini termasuk kecil, dengan jalanan yang berbukit-bukit. Aku akan mencoba menggambarkannya dengan latar belakang lokasi kota-kota di sekitar tempat tinggalku. Manado mirip sekali dengan kota Magelang yang digabung dengan jalanan di Salatiga, dipadukan dengan hawa panas seperti di Semarang.
Tentulah, karena kota Manado adalah kota pinggir laut yang memiliki dua gunung. Jadi, konturnya berbukit-bukit dan hawanya panas. Serta lembab.
Melewati beberapa mall dipinggir pantai membuatku berpikir bahwa pembangunan kota ini tampak terburu-buru. Belum lagi melihat banyaknya hotel berbintang yang dibangun di kota ini. Kebanyakan di antaranya bahkan masih dalam tahap penyelesaian, atau baru saja dibuka.
Sepertinya semua serba terburu-buru, dalam rangka menyambut datangnya tamu-tamu WOC 2009. Tiga mall dan - paling tidak - lima hotel mewah.
"Dan nanti di tahun 2011 banyak yang sakit jiwa, Pak," ucap sopir tadi ke ayahku.
Oh. Kenapa?
"Ya hotel segini banyak siapa yang mau pakai?" tanyanya retoris.
Hm... benar juga. Belum lagi melihat ruko-ruko yang tampak terbengkalai dan tidak terisi. Salah salah satunya adalah Plaza Marina yang sepi dan tak berpenghuni. Yah, semoga saja rencana pemerintah dan WOC 2009 berhasil, dan itu membawa berkah bagi gejolak turisme Manado.
Setelah berbenah sejenak di hotel, kami langsung memulai petualangan kami di Manado.
Taman Laut Bunaken
Ketika berlibur, sistem 'save-the-best-for-last' tidak bisa diterapkan. Yang terbaik harus segera dilakukan sebelum cuaca, atau kesehatan, atau ada halangan. Apapun bisa terjadi, kan? Jadi, siang itu kami langsung berangkat untuk melihat Taman Laut Bunaken.
Perjalanan ke Bunaken memakan waktu sekitar 30 menit dengan boat dari pelabuhan. Di Taman Laut, dengan menggunakan katamaran (glass bottom boat). Dan, voila... keindahan taman laut terhampar.
Terumbu karang yang masih sehat tampak di sepanjang perjalanan, berwarna-warni. Dengan anemon-anemonnya yang menari-nari. Puluhan spesies hewan laut bermain-main di bawah kapal kami, bersandingan dengan drop wall yang indah sekaligus mencekam.
"Tingginya sampai sekitar 75 meter, Mbak," jelas Mas Guide.
Walau keindahannya tak bisa dibandingkan dengan menyelam sendiri langsung, tapi pemandangan yang ditawarkan katamaran cukup mencengangkan. Paling tidak bisa memberikan sedikit gambaran sebelum aku berenang sendiri.
Di bagian taman laut yang lain, kami diperbolehkan berenang sepuasnya. Tak ada waktu yang mengikat. Aku dan adikku pun langsung masuk ke air, sudah lengkap dengan fin dan masker pinjaman. Adikku memilih untuk berenang-renang di sekitar kapal, sementara aku lebih suka menyusuri drop wall sepanjang lebih dari 100 meter yang membentang di bawah kami.
Ketika arus semakin kuat, aku memutuskan untuk kembali ke area kapal. Aku tidak ingin terseret hingga kembali ke Pulau Sulawesi. Di area kapal ini, Mas Perenang yang memberiku arah saat berenang-renang mengajari cara menarik ikan-ikan itu agar mendekat ke kita.
Rahasianya: Remah-remah Biskuat!
Ternyata itu sebabnya saat kami akan berangkat, Mas Perenang menyarankanku untuk membeli beberapa bungkus Biskuat. Tadinya aku pikir agar aku mempunyai energi sebesar macan untuk berenang di laut.
Arus yang kuat rupanya membuat banyak cumi-cumi berbaris di bawah permukaan. Ini tidak begitu terlihat, tapi Mas Perenang membantuku dengan mengarahkan pandanganku saat menyelam-nyelam kecil. Mereka berbaris, melawan arus. Tapi kenapa tidak bergerak?
"Mungkin menunggu makanan terbawa arus langsung menuju mereka," ujar Mas Perenang.
Puas berenang-renang, kami pulang dengan jalur yang berbeda, melewati Pulau Selagit dan Pulau Manado Tua. Bentuknya seperti gunung yang muncul dari dalam laut.
"Dulunya, orang Manado berasal dari pulau itu. Mereka menyeberang, dan menemukan tanah yang lebih luas di Sulawesi, Manado," kata Mas Guide.
Kami sampai hotel saat matahari mulai menghilang. Cukup sudah untuk hari ini. Semoga besok tak kalah menarik.
diposting oleh
bulb-mode
pukul
12:39 AM
0
komentar
Label: Keliling-liling
Friday, July 10, 2009
Manado di Ujung Sulawesi

Menolak ajakan berjalan-jalan adalah seperti menolak makanan saat perut lapar. Sesuatu yang TIDAK BOLEH dilakukan. Kecuali kalau memang ada alasan-alasan tertentu. Seperti makanannya beracun, mungkin?
Apalagi kalau ajakannya ke Manado, sebuah kota di ujung utara Pulau Sulawesi.
Dulu-dulu kala, aku sudah mendengar tempat bernama Bunaken. Jauh sebelum aku benar-benar tahu apa itu perjalanan untukku. Bunaken dengan laut biru yang jernih dan tenang, taman laut yang teramat indah, dinding-dinding karang yang mengagumkan. Yup, dan letaknya yang jauh dari kota tempat tinggalku.
Ajakan liburan keluarga ke Manado datang beberapa hari sebelum World Ocean Conference diselenggarakan. Dan aku begitu bersemangat hingga langsung mengiyakan tanpa memikirkan tanggal ataupun yang lainnya. Aku hanya berpikir tentang kembali berenang di lautan luas, di bawah siraman sinar matahari yang cerah, sepuasnya...
Yah, saat itu memang hanya lautan dan berenang-lah yang aku tahu dari Manado. Aku belum sadar bahwa selain laut dan Bunaken-nya, Manado juga memiliki begitu banyak hal-hal menarik yang sebenarnya pernah ingin aku cari tahu.
Tapi, terlepas dari itu, ya tentu aku juga tertarik untuk tahu tentang kotanya, tentang kulinernya, dan tentang apapun yang bisa aku ketahui. Kalau waktuku mencukupi.
Tanggal yang telah ditentukan terasa lama saat masih jauh. Tapi mendadak waktu seperti terbang dengan cepatnya ketika hari-H mulai mendekat. Selalu begitu. Dan tiba-tiba, aku kembali harus tergesa-gesa menyiapkan peralatan liburanku - yang untung selalu tertata di pojok kamarku.
Yah, tentu saja aku bersemangat untuk berlibur!
diposting oleh
bulb-mode
pukul
12:00 AM
0
komentar
Label: Keliling-liling
Wednesday, July 8, 2009
Menjadi Pemilih

Beberapa bulan yang lalu, aku memantapkan diri untuk menjadi GolPut.
Alasannya klise. Tidak ada calon presiden yang cukup baik, menurut penilaianku. Kesemuanya memiliki kelemahan yang terlalu banyak. Belum lagi ketika mereka mulaisaling berkoalisi. Apa pun dilakukan untuk memperoleh tambahan suara.
Yup, aku kecewa.
Aku heran dengan begitu mudahnya mereka menelan idealisme partainya untuk menjadi presiden. Saling berkoalisi walau berbeda visi, hanya demi menambah suara. Lalu, apa arti kepercayaan pemilih partai bagi mereka?
Dan iklan-iklannya yang sering melewati batas logika, semakin membuatku mual. Bagaimana mungkin, seorang pelanggar HAM masih bisa mencalonkan diri menjadi calon presiden?
Debat calon presiden yang aneh. Janji-janji yang sepertinya hanya diucapkan saja. Serta ketiadaan blue print di pemerintahan kita membuat siapa pun yang menjadi presiden hanya akan berpikir jangka pendek.
Mendekati pemilihan presiden, aku semakin bingung. Melihat kualitas calon-calon presiden dan wakilnya yang tidak bisa diharapkan ini membuatku tersudut sebagai pemilih. Lebih baik memilih atau tidak memilih?
Tapi di akhir-akhir waktu, aku baru mengerti makna dari 'memilih yang terbaik dari yang buruk'. Dan aku memutuskan untuk menggunakan hak suaraku.
Untukku, ini adalah 'memilih yang teraman dari yang buruk'. Bukan yang terbaik.
Menurutku, menjadi GolPut memang adalah suatu bentuk pernyataan. Asalkan mereka memang melakukannya karena mengerti, bukan karena alasan malas atau latah.
Namun tetap saja, pernyataan itu tidak akan memberi solusi. Benarkan aku bila salah, tapi bukankah pemilihan presiden akan tetap berjalan walaupun pemilih yang GolPut mencapai puluhan persen?
Dan ketika kita membuang-buang suara kita, bisa saja justru yang terburuklah yang terpilih. Mana yang lebih baik?
Andaikan saja ada GolPut bisa menjadi solusi atas kekecewaanku...
diposting oleh
bulb-mode
pukul
11:54 PM
0
komentar
Label: Mumble Jumble
Friday, April 17, 2009
Aku Merindukanmu

Iya, ini pengakuanku.
Aku mengabaikanmu. Perlahan-lahan, aku membiarkanmu menjauh. Aku terhanyut dalam dunia baruku yang amat nyaman dan tidak menggenggammu. Aku tahu aku salah. Aku menganggap keberadaanmu bukan menjadi hal yang penting lagi bagiku, saat itu.
Tapi akhir-akhir ini aku amat merindukanmu.
Di atas berlembar-lembar kertas aku mencoba mencarimu. Mencoba meraihmu kembali, walau aku tahu ini akan sulit. Kamu sama sekali tidak mendekat.
Ini mengerikan.
Apakah kamu membalasku dan belajar mengabaikanku? Apakah dunia baruku ini terlalu nyaman untukmu? Apakah kamu menganggap aku sudah tidak membutuhkanmu?
Bodoh.
Aku membutuhkanmu. Kemarin, hari ini, esok, dan entah sampai kapan. Aku membutuhkan hutan pinus, bulan, bintang, dan segala bentuk detail yang menyertaimu.
Aku tak ingin memilih. Aku tak boleh memilih. Apakah aku tidak bisa memilikimu, dan menjalani dunia nyamanku sekaligus?
Ah. Aku benar-benar merindukanmu. Tidakkah itu terlihat?
diposting oleh
bulb-mode
pukul
2:52 AM
0
komentar
Label: Hutan Pinus